Peluang Produk Pesantren OPOP Jatim Tembus Pasar Eropa

Peluang Produk Pesantren OPOP Jatim Tembus Pasar Eropa
Contoh produk kopi hasil alumni Pesantren. Hingga saat ini kopi telah dipasarkan di pasar lokal maupun internasional.

Hitput.com – Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Oleh karenanya, kesempatan untuk mengembangkan bisnis berbasis ekonomi syariah sangat potensial. Tentu saja jika bisa mengelolah dengan baik dan benar. Apalagi di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang ini.

Beruntungnya ekonomi syariah di Indonesia mampu survive. Ialah pesantren, lembaga yang dapat dimaksimalkan untuk membantu perkembangan ini. Bukan semata hanya sebagai pasar potensial dari produk ekonomi syariah.

Namun, pesantren dinilai potensial juga guna dijadikan sebagai tempat untuk meciptakan produknya sendiri. Produk yang tidak hanya dapat dijual di lingkup pesantren atau lingkup dalam negeri saja melainkan bisa di ekspor juga.

Program One Pesantren One Product

Melihat potensi besar dari pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan langkah cemerlang. Pemprov Jawa Timur membuat sebuah program bernama One Pesantren One Product atau disingkat menjadi OPOP.

Sejauh ini, program OPOP sudah mulai dijalankan di beberapa pesantren di Jawa Timur. Meski terbilang baru, ada beberapa produk yang sudah berhasil di ekspor ke luar negeri.

Dalam sebuah diskusi berbasis virtual yang mengusung tema “Potensi Ekspor Produk OPOP ke Eropa” (18 April 2021). Sekertaris OPOP Jatim, Muhammad Ghofirin mengatakan tentang optimisme OPOP dalam memaksimalkan segala kesempatan yang berkaitan dengan pemasaran produk hasil pesantren ke pasar mancanegara.

Beliau juga memberikan contoh beberapa produk dari program One Pesantren One Product yang sudah di ekspor ke negara tetangga. Ialah pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, yang berhasil menembus pasar luar negeri.

Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura merupakan 4 negara yang berhasil dijangkau. Tentu kedepannya akan diusahakan ke negara-negara lain termasuk negara di benua Eropa.

Baca Juga: Wisata Pulau Bawean Gresik, Destinasi Indah Bak Surga Dunia

OPOP Menuju Pasar Eropa

Pasar Asia sudah berhasil dijangkau, meskipun baru negara-negara di Asia Tenggara saja. Tentunya step by step akan merambah ke pasar negara Asia lainnya.

Tantangan berikutnya yang sedang dicoba adalah menembus pasar Eropa, tentu ini akan lebih sulit, mengingat sudah berbeda benua. Artinya dari segi selera rasa, kebutuhan, dan lainnya ada perbedaan yang cukup signifikan.

Maka dari itu, berbagai persyaratan dan tantangan tersebut harus diperhitungkan matang-matang. Muhammad Ghofirin yang akrab dipanggil Gus Ghofirin mengatakan:

“Apabila produk pangan dari pesantren tidak ingin kalah saing dengan produk dari negara lain, maka produsen (pesantren) haruslah memiliki pengetahuan yang kompeten berkaitan dengan jenis sertifikasi produk pangan yang dimiliki negara Uni Eropa”.

Gus Ghofirin sendiri memberikan usulan produk OPOP unggulan yang potensial menembus pasar Eropa. Kopi dan cokelat adalah dua produk yang diharapkan bisa dimaksimalkan oleh pesantren. Mengingat sumber daya alam dari kedua produk ini mudah ditemukan di daerah Jawa Timur.

Hal itupun sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Baca Juga: Bukit Nirwana Malang: Menikmati Keindahan Destinasi Wisata Baru

Jembatan Penghubung Kerjasama dengan Pasar Uni Eropa

Sebagai jembatan penghubung antara OPOP dan pasar Eropa, Pemprov Jawa Timur bekerjasama dengan Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono, dari Jacob University Bremen, Jerman. Prof. Hendro sendiri menilai bahwa pesantren di Jawa Timur memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan ekonomi syariah.

Lebih lanjut, beliau mengatakan jika produk pangan yang halal menjadi incaran banyak masyarakat Eropa khususnya Jerman dan khususnya lagi bagi orang muslim. Jerman sendiri memang terkenal sebagai salah satu negara Eropa dengan jumlah penduduk muslim yang cukup banyak.

Langkah mengincar pasar Jerman terbilang tepat. Karena negara yang menjadi pemasok makanan terbesar di Uni Eropa adalah Jerman. Oleh karena itu juga, Jerman menjadi negara pusat acuan sertifikasi pangan di wilayah Uni Eropa. Artinya apa? Artinya, jika OPOP berhasil menembus pasar Jerman maka kesempatan menembus pasar-pasar Eropa lain akan lebih mudah.

Prof. Hendro pun mengatakan apabila produk OPOP sudah ada di pasar Jerman, maka beliau akan berdiskusi dengan KBRI dan KJRI agar bisa mengembangkan ke negara Eropa lain.

Baca Juga: Bukit Nirwana Malang – Menikmati Keindahan Destinasi Wisata Baru

Pengiriman Sampel Produk Sebagai Langkah Awal

Prof. Hendro sudah memiliki rencana bahwa di bulan April atau Mei tahun ini akan mengajukan sampel kaldu makanan yang berasal dari kota Sidoarjo. Selain mengirim produk langsung, beliau juga menyarankan mengirim katalog produk OPOP terlebih dulu jika memang ada.

Beliau juga memberikan usulan bahwa kemasan produk harus menyertakan komposisi dari bahan-bahan, kandungan nutrisi, gizi, dan lainnya. Karena masyarakat di Jerman dan umumnya Uni Eropa sangat teliti dalam membeli suatu produk.

Lebih lanjut lagi program One Pesantren One Product akan didiskusikan lagi dengan merangkul perangkat lainnya. Organisasi Perangkat Daerah terkait seperti; Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur dapat ikut serta menyukseskan program ini.

Harapannya pesantren sebagai pihak produsen terus meningkatkan kreativitas dan produktivitasnya. Sehingga dapat menghasilkan produk-produk dengan kualitas unggul yang mampu bersaing di pasar internasional. Diharapkan juga pemerintah pusat terus memberikan dukungan misalnya dengan membantu proses ekspor agar lebih mudah.

Leave your vote

12 Points
Upvote Downvote

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here