Namun sayangnya Dalam penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 lalu menunjukan bahwa, budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara responden. Melalui hasil penelitian tersebut terlihat bahwa tingkat membaca orang Indonesia sangatlah rendah. Untuk itu agar kita mengetahui pentingnya membaca ada baiknya kita melihat perjalanan hidup salah satu tokoh besar negeri ini Bung Hatta namanya.
Mohammad Hatta atau biasa kita kenal sebagai Bung Hatta adalah wakil presiden pertama Indonesia dan seorang negarawan yang brilian. Bersama Bung Karno mereka membangun negeri muda ini dari kejamnya kolonialisme menuju kebebasan yang hakiki. Sebagai politisi dan ekonom Hatta sangat patut untuk dikenang. Seorang demokrat hampir tanpa cela yang teguh atas prinsip hidupnya.
Hatta adalah manusia yang terkenal dengan cinta matinya pada buku dan membaca. Beliau mengoleksi begitu banyak buku semenjak usia 17 tahun. Beliau makin gila pada buku sejak ia melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda. Di sana ia mengahabiskan waktu sekolah dan membaca buku sebanyak mungkin. Saking lahapnya membaca beliau bisa menguasai 4 bahasa asing di usia muda.
Banyak cerita yang terjadi antara si bapak koperasi Indonesia itu dengan bukunya. Ia bahkan melamar istrinya Rahmi dengan mas kawin buku yang ia tulis sendiri berjudul Alam Pikiran Yunani dan hal itu sempat membuat calon mertuanya kaget. Namun ia tak bergeming dengan keputusannya. Hatta yang memang menikah di usia yang tidak muda lagi ini sudah terlanjur menyayangi buku. Bisa terbukti di momen penting dalam hidupnya itu ia malah memilih buku sebagai tanda cinta.
Selain itu ada kisah di mana Bung Hatta harus meninggalkan 16 peti buku koleksinya yang ia bawa ke Boven Digoel tempat dia bersama Soekarno dibuang oleh pemerintah kolonial. Hatta memang selau mencintai buku-bukunya yang banyak itu. Jadwal Hatta membaca memakan waktu 6-8 jam per hari. Bahan bacaannya? Sangat beragam, dari mulai roman sampai buku-buku teori yang sulit.
Hatta mewariskan perpustakaan dengan buku yang sangat banyak. Buku-buku tersebut sempat ingin ia jual, karena takut tidak ada yang mengurusnya ketika dia sudah tiada. Beruntung itu ditolak oleh anak-anaknya. Ini adalah bukti lain bahwa buku sangat penting dalam hidupnya, ia takut benda-benda kesayangannya hancur dan tidak bisa memberikan apa-apa.
Membaca buku adalah bagian dalam hidup Hatta yang tak bisa terpisahkan. Kecintaan pada buku juga yang membawa dia pada pengetahuan yang menjadikannya salah satu politikus terpenting dalam sejarah Indonesia. Kita bisa belajar dari cerita ini bahwa membuka diri atas cakrawala pengetahuan akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Berpikir sempit tidak akan membuat anda berkembang.
Terutama di masa digital seperti sekarang. Melewatkan kesempatan untuk membaca dan tahu lebih banyak akan membuat anda ketinggalan. Di dunia yang sudah sangat cepat bergerak ini, siapa yang memiliki kunci atas pengetahuan dan informasi ia lah yang akan menguasai dunia. Maka bacalah sebanyak mungkin, untuk diri yang lebih baik. Rakuslah membaca jadilah seperti Hatta.
Ringkasan Rekomendasi Vitamin Untuk menjaga stamina selama puasa, vitamin yang paling dibutuhkan adalah Vitamin B Kompleks (untuk…
Mengapa Harus Mencari Alternatif Canva di Tahun 2026? Di tahun 2026, alternatif aplikasi gratis terbaik…
Hitput.com - Tips puasa 2026 ini cocok untuk Gen Z dan Milenial agar fokus dalam…
Hitput.com - Sentul, Bogor kembali menghadirkan destinasi wisata yang mencuri perhatian. Bagi Anda pecinta suasana…
Hitput.com - Healing ke alam kini menjadi kebutuhan krusial untuk memulihkan kesehatan mental dan mencari ketenangan…
Hitput.com - Studi terbaru menunjukkan jalan kaki 4.000 langkah sekali seminggu dapat memangkas risiko kematian…