Quiet quitting adalah fenomena di mana karyawan tetap menjalankan kewajiban sesuai deskripsi pekerjaan namun berhenti memberikan usaha ekstra, seperti lembur atau tugas tambahan, demi menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Fenomena ini bukan berarti berhenti dari pekerjaan. Melainkan, respons terhadap kelelahan mental (burnout), beban kerja berlebihan, dan budaya kerja yang menuntut (hustle culture) yang sering kali mengabaikan kesehatan mental. Selain itu, dengan data yang menunjukkan sekitar 50% pekerja merasa tidak terlibat secara emosional. Quiet quitting menjadi mekanisme bertahan bagi berbagai generasi untuk menetapkan batasan yang sehat dalam menghadapi lingkungan kerja yang kurang apresiatif atau toksik.
Hitput.com – Pernah dengar quiet quitting? Beberapa waktu terakhir, istilah ini makin sering berseliweran di media sosial. Awalnya, istilah tersebut viral di TikTok, lalu merembet ke LinkedIn, X, sampai obrolan santai di tongkrongan.
Banyak yang merasa relate, tapi tidak sedikit pula yang menganggap ini cuma tren Gen Z yang lagi malas kerja. Padahal, sebenarnya quiet quitting bukan berarti benar-benar resign diam-diam. Lantas, apa sebenarnya quiet quitting versi Gen Z?
Dilansir dari World Economic Forum, istilah quiet quitting lebih merujuk pada kondisi ketika seseorang tetap bekerja seperti biasa, tapi hanya sebatas melakukan apa yang diminta, tanpa dorongan untuk selalu “lebih”, tanpa lembur yang nggak perlu, dan tanpa ambisi berlebihan yang mengorbankan kehidupan pribadi. Singkatnya, kerja ya kerja, tapi hidup tetap jalan.
Di satu sisi, konsep ini terdengar seperti batasan yang sehat. Namun di sisi lain, banyak pula yang mempertanyakan apakah ini merupakan bentuk kesadaran baru soal work-life balance, atau sekadar pembenaran untuk menurunkan standar kerja?
Fenomena quiet quitting sejatinya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Hanya saja, istilahnya jadi semakin populer ketika banyak orang mulai mengevaluasi ulang hubungan mereka dengan pekerjaan.
Selama masa work from home, batas antara kerja dan kehidupan pribadi jadi kabur. Jam kerja melebar, tekanan meningkat, dan banyak orang mulai merasa lelah secara mental. Di titik itulah, muncul semacam “perlawanan halus” tapi bukan dengan resign, melainkan dengan melakukan apa yang memang jadi tanggung jawab, tanpa harus selalu overdeliver.
Bagi generasi muda, terutama Gen Z, pola pikir ini terasa makin masuk akal. Mereka tumbuh di era yang lebih terbuka soal kesehatan mental. Selain itu, mereka cenderung lebih berani mempertanyakan budaya kerja lama yang identik dengan lembur dan loyalitas tanpa batas.
Jika ditarik lebih jauh, quiet quitting sering dikaitkan dengan burnout. Rasa capek yang bukan hanya fisik, tetapi juga kesehatan mental karena tekanan kerja yang terus-menerus tanpa jeda.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelelahan kerja bisa bikin seseorang jadi disengaged, alias kehilangan keterikatan dengan pekerjaannya. Mereka tetap datang ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya, tetapi secara emosional sebenarnya mereka sudah “mundur”.
Dalam konteks ini, quiet quitting bisa dilihat sebagai mekanisme bertahan. Daripada benar-benar drop atau resign, orang memilih untuk menurunkan intensitas keterlibatan mereka agar tetap waras.
Sayangnya, dari sudut pandang lain, hal ini sering kali disalahartikan sebagai kemalasan. Budaya kerja di sini masih cukup kental dengan anggapan bahwa karyawan yang “baik” adalah mereka yang siap lembur, responsif di luar jam kerja, dan selalu bilang “siap” untuk tugas tambahan.
Hal inilah yang membuat quiet quitting sekilas terlihat seperti tren yang dibesar-besarkan media sosial. Namun, di balik itu, ada faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.
Data yang dirangkum oleh WifiTalents menyebutkan bahwa sekitar setengah pekerja berada di posisi “tidak terlibat” secara emosional dalam pekerjaan mereka, alias melakukan tugas seperlunya tanpa koneksi yang kuat dengan pekerjaan itu sendiri.
Artinya, fenomena ini bukan baru muncul karena viral di media sosial. Istilahnya mungkin baru, tapi perilakunya sudah lama ada.
Selain itu, ada juga faktor burnout yang tidak bisa diabaikan. Dalam satu laporan terbaru, 64 persen pekerja mengaku kesehatan mental mereka terdampak oleh budaya kerja yang terlalu menuntut (hustle culture).
Beberapa alasan utama kenapa orang “menarik diri” dari pekerjaan juga cukup konsisten, yakni kurang dihargai (43 persen), komunikasi buruk dari atasan (31 persen), lingkungan kerja toxic (38 persen), serta beban kerja berlebihan (45 persen).
Menariknya, fenomena ini juga tidak hanya terjadi pada Gen Z. Survei lain menunjukkan bahwa pola “kerja secukupnya” juga muncul di berbagai generasi ketika mereka menghadapi lingkungan kerja yang tidak sehat.
Di beberapa negara, muncul istilah baru seperti presenteeism, yakni kondisi ketika karyawan tetap bekerja, tapi dengan rasa kesal atau tidak puas yang terpendam. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena quiet quitting bukan sekadar tren. Namun, mengenai hubungan antara pekerja dan pekerjaan itu sendiri.
Scientific Reports Nature mencatat, kesejahteraan karyawan terbukti memiliki pengaruh negatif terhadap kecenderungan quiet quitting. Artinya, semakin sejahtera kondisi karyawan, semakin kecil kemungkinan mereka untuk menarik diri dari pekerjaan.
Temuan ini memberikan wawasan penting bagi organisasi dan praktisi untuk memahami faktor-faktor yang berperan, sekaligus merancang strategi yang efektif dalam menekan kecenderungan quiet quitting. Penelitian ini juga sejalan dengan Social Exchange Theory (SET).
Fenomena ini memang jadi tren yang viral dan ikut dibentuk oleh media sosial. Namun, realitanya tren ini muncul karena kondisi riil di lapangan, yakni kelelahan, tekanan kerja, dan kebutuhan untuk memiliki kehidupan di luar pekerjaan.
Dengan mempertimbangkan kerangka SET, perusahaan diharapkan dapat lebih memahami motivasi di balik perilaku karyawan. Sehingga, perusahaan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan meningkatkan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.
Pada akhirnya, quiet quitting adalah sebuah alarm bagi dunia profesional bahwa loyalitas tanpa batas tidak lagi bisa dianggap sebagai standar baku jika tidak dibarengi dengan timbal balik yang setimpal. Fenomena ini membuktikan bahwa produktivitas tidak seharusnya dibayar dengan kesehatan mental. Bagi perusahaan, tantangannya bukan lagi sekadar mencari cara agar karyawan bekerja lebih keras. Sebaliknya, tantangannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat mereka merasa dihargai dan memiliki ruang untuk tetap hidup di luar jam kerja. Jadi, apakah ini sebuah bentuk kemunduran, atau justru evolusi menuju cara kerja yang lebih manusiawi?
Setelah membaca fenomena quiet quitting versi Gen Z ini, menurutmu apakah batasan yang tegas dalam bekerja memang kunci untuk menghindari burnout, atau justru bisa menghambat perkembangan karier dalam jangka panjang? Dan apakah kamu salah satu yang sedang mengalaminya? Diskusi ya di kolom komentar!
Overview: Menurunkan kolesterol secara alami setelah Lebaran dapat dilakukan dengan mengganti asupan lemak jenuh dari…
Apa yang Berubah per 28 Maret 2026? Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)…
Ringkasan Rekomendasi Vitamin Untuk menjaga stamina selama puasa, vitamin yang paling dibutuhkan adalah Vitamin B Kompleks (untuk…
Mengapa Harus Mencari Alternatif Canva di Tahun 2026? Di tahun 2026, alternatif aplikasi gratis terbaik…
Hitput.com - Tips puasa 2026 ini cocok untuk Gen Z dan Milenial agar fokus dalam…
Hitput.com - Sentul, Bogor kembali menghadirkan destinasi wisata yang mencuri perhatian. Bagi Anda pecinta suasana…