Mengapa kelas menengah di Indonesia merasa semakin tertekan secara finansial? Berdasarkan data BPS dan Bank Dunia, kelompok kelas menengah mengalami fenomena “terjepit ekonomi” karena beberapa faktor utama:
Laju Inflasi vs Gaji Stagnan: Kenaikan biaya hidup (pangan, pendidikan, kesehatan) tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan.
Wilayah Abu-abu Bantuan Sosial: Dianggap terlalu kaya untuk menerima bansos, namun tidak cukup kaya untuk menghadapi guncangan ekonomi (seperti PHK atau sakit).
Harga Properti Melambung: Pertumbuhan harga rumah jauh melampaui kemampuan menabung pekerja.
Penurunan Jumlah: Proporsi kelas menengah RI merosot dari 21% (2019) menjadi 17% (2024), di mana sebagian besar bergeser menjadi aspiring middle class (rentan miskin).
Hitput.com – Memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan stabil sering dianggap sebagai tanda seseorang telah mapan. Gaji masuk setiap bulan, tagihan yang masih bisa dibayar tepat waktu, serta masih adanya ruang untuk makan di luar, menonton konser, ataupun pergi liburan cukup memperlihatkan kehidupan yang tampak baik-baik saja.
Namun, bagi sebagian orang kondisi tersebut tidak selalu berarti rasa aman secara finansial. Apalagi di tengah kenaikan biaya hidup, harga properti yang terus melambung, biaya pendidikan yang semakin mahal, hingga kebutuhan kesehatan yang tidak terduga.
Mereka berada di posisi yang serba tanggung. Inilah yang disebut dengan kelas menengah. Tidak tergolong miskin, sehingga tidak menjadi sasaran berbagai program bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kaya untuk menghadapi guncangan ekonomi tanpa rasa khawatir.
Fenomena yang kemudian bisa memunculkan pertanyaan, mengapa kelompok yang sering dianggap mapan ini justru merasa semakin tertekan?
Mendefinisikan kelas menengah ternyata tidak sesederhana melihat besarnya gaji. Di Indonesia, klasifikasi kelas menengah sering menggunakan pendekatan pengeluaran atau konsumsi rumah tangga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024, kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencapai 66,35 persen dari total penduduk Indonesia. Kedua kelompok ini juga menyumbang lebih dari 80 persen dari konsumsi masyarakat, sehingga memiliki peran penting sebagai penopang ekonomi nasional.
Sementara itu, laporan Bank Dunia menjelaskan bahwa selain kelas menengah, terdapat kelompok yang disebut aspiring middle class atau kelompok menuju kelas menengah. Mereka sudah keluar dari kemiskinan, tetapi belum memiliki keamanan ekonomi yang kuat. Kelompok ini masih berisiko turun kembali jika menghadapi guncangan seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan yang besar.
Dengan kata lain, tidak semua orang yang terlihat “baik-baik saja” secara ekonomi benar-benar memiliki kondisi keuangan yang aman.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kelas menengah adalah meningkatnya biaya hidup. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari mungkin tidak selalu terasa drastis dalam satu waktu. Namun, ketika biaya makan, transportasi, listrik, pendidikan, hingga hiburan meningkat secara bersamaan, dampaknya menjadi signifikan terhadap anggaran rumah tangga.
Masalahnya, laju kenaikan kebutuhan tidak diikuti dengan kenaikan pendapatan. Akibatnya, ruang untuk menabung atau berinvestasi menjadi semakin sempit. Banyak keluarga kelas menengah masih mampu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi kesulitan mempersiapkan kebutuhan jangka panjang seperti dana pendidikan anak, dana pensiun, apalagi untuk membeli rumah.
Kondisi inilah yang membuat sebagian orang merasa terus bekerja keras, tapi tidak benar-benar bergerak maju secara finansial.
Posisi kelas menengah sering digambarkan sebagai berada di “wilayah abu-abu”. Program bantuan sosial umumnya ditujukan bagi kelompok miskin dan rentan. Kebijakan tersebut tentu penting untuk melindungi masyarakat yang paling membutuhkan.
Namun, di sisi lain, kelas menengah biasanya tidak termasuk dalam kelompok penerima bantuan karena dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Padahal, kemampuan ekonomi kelompok ini tidak selalu sekuat yang terlihat.
Karena itu, tidak sedikit anggota kelas menengah yang merasa “terlalu kaya untuk dibantu, tetapi terlalu biasa untuk merasa aman.”
Bagi banyak rumah tangga kelas menengah, tantangan terbesar bukanlah kebutuhan rutin bulanan, melainkan pengeluaran besar yang datang tiba-tiba. Misalnya saja kondisi seperti kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, atau anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan perawatan.
Belum lagi kerusakan rumah atau kendaraan, kebutuhan pendidikan yang meningkat, sampai kewajiban untuk membantu orang tua atau anggota keluarga lainnya. Salah satu dari peristiwa itu saja dapat menguras tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Bank Dunia bahkan menyoroti bahwa kelompok menuju kelas menengah memiliki kemungkinan yang hampir sama untuk naik ke tingkat ekonomi yang lebih tinggi maupun turun ke kondisi yang lebih rentan. Artinya, mobilitas ekonomi tidak selalu bergerak ke atas.
Di masa lalu, bekerja keras sering dianggap sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Namun, kini sebagian kelas menengah merasa upaya tersebut tidak lagi relevan dan tidak selalu menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Harga rumah di banyak kota meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan menabung sebagian pekerja. Biaya pendidikan terus bertambah. Sementara itu, kebutuhan gaya hidup modern seperti internet, perangkat digital, dan transportasi sudah menjadi kebutuhan dasar yang sulit dihindari.
Akibatnya, banyak orang merasa berada dalam situasi yang stagnan. Mereka tidak mengalami kesulitan ekonomi yang ekstrem, tetapi juga sulit mengumpulkan kekayaan atau aset yang dapat meningkatkan keamanan finansial dalam jangka panjang.
Peran kelas menengah sebenarnya sangat penting bagi perekonomian. Kelompok ini merupakan motor konsumsi, sumber penerimaan pajak, sekaligus penggerak berbagai sektor usaha.
Namun, beberapa data menunjukkan adanya perubahan yang perlu diperhatikan. Menurut data BPS, proporsi kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 21 persen pada 2019 menjadi sekitar 17 persen pada 2024. Sebagian justru berpindah ke kelompok menuju kelas menengah yang memiliki tingkat keamanan ekonomi lebih rendah.
Meski tidak ada solusi instan untuk mengatasi kenaikan biaya hidup, para ahli keuangan menyarankan beberapa langkah yang dapat membantu rumah tangga kelas menengah menjaga stabilitas finansial.
Dana darurat menjadi salah satu fondasi kesehatan finansial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan masyarakat menyiapkan dana cadangan untuk menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran mendesak lainnya.
Penggunaan kredit untuk kebutuhan nonprioritas dapat menjadi beban tambahan ketika kondisi ekonomi sedang tidak pasti. Karena itu, banyak perencana keuangan menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil utang yang tidak menghasilkan nilai jangka panjang.
Di tengah meningkatnya biaya hidup, meninjau kembali pengeluaran rutin dapat membantu mengidentifikasi biaya yang sebenarnya dapat dikurangi. Langkah ini tidak selalu berarti hidup serba hemat, melainkan memastikan pengeluaran tetap sejalan dengan prioritas dan kemampuan finansial.
Selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, kelas menengah juga perlu mempersiapkan kebutuhan masa depan, seperti dana pendidikan, kepemilikan rumah, dan masa pensiun. Menabung secara konsisten, meski dalam jumlah kecil, dapat membantu membangun ketahanan finansial dalam jangka panjang.
Di tengah perubahan ekonomi dan dunia kerja yang terus berkembang, meningkatkan keterampilan dapat menjadi salah satu investasi yang bernilai. Keterampilan baru tidak hanya membuka peluang karier, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.
Kelas menengah sesungguhnya bukan kelompok yang paling rentan, tetapi juga bukan kelompok yang kebal terhadap kenaikan biaya hidup. Mereka memiliki pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap berbagai layanan, tetapi tetap harus berhitung sebelum mengambil keputusan finansial besar.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, tantangan terbesar kelas menengah mungkin bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini. Tantangan sebenarnya adalah mempertahankan kualitas hidup sekaligus membangun rasa aman untuk masa depan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, menjaga stabilitas finansial mungkin bukan perkara mudah, tetapi langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu kelas menengah bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi.
Q: Apa yang dimaksud dengan aspiring middle class? A: Aspiring middle class adalah kelompok masyarakat yang telah keluar dari garis kemiskinan namun belum memiliki keamanan ekonomi yang kuat, sehingga masih sangat rentan jatuh miskin kembali jika terkena guncangan ekonomi.
Q: Mengapa kelas menengah tidak mendapat bantuan sosial (bansos)? A: Karena indikator bansos umumnya menyasar kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin berdasarkan pengeluaran minimum tertentu. Kelas menengah dianggap sudah mandiri secara ekonomi, meski realitanya tabungan mereka pas-pasan.
Q: Bagaimana cara kelas menengah bertahan di tengah kenaikan biaya hidup? A: Beberapa langkah yang disarankan ahli keuangan antara lain: membangun dana darurat, menekan utang konsumtif, mengevaluasi pengeluaran bulanan, fokus pada tujuan jangka panjang, dan meningkatkan kapasitas diri (upskilling) untuk menambah pendapatan.
Sumber:
Overview: Apa saja gejala skoliosis pada perempuan yang sering diabaikan? Gejala awal skoliosis sering kali…
Overview: Kawasan Passer Baroe menyimpan deretan kuliner legendaris dan hidden gem yang wajib dicicipi. Berikut…
Overview: "Tidak ada kata terlambat untuk mencoba hal baru di usia 25, 30, atau 40…
Overview: "Samsung memimpin tren fotografi smartphone 2026 melalui ProVisual Engine dan On-Device AI. Teknologi ini…
Hitput.com - Prompt AI design tools Canva: "Minimalist home office, transparent glass laptop, holographic UI,…
Hitput.com - Prompt ChatGPT AI: "Create an Image illustration of a team celebrating a milestone…