Hitput.com – Kondisi keuangan kerap terasa makin menantang. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang terus melonjak membuat impian membeli rumah, kendaraan, atau berlibur ke luar negeri terasa semakin sulit dijangkau. Keluhan mengenai gaji yang hanya numpang lewat menjadi perbincangan harian di media sosial.
Namun, di tengah tekanan ekonomi tersebut, muncul kontradiksi menarik: kedai kopi tetap dipadati pengunjung, produk skincare lokal terus diburu, dan gerai penutup mulut (dessert) viral selalu menyisakan antrean panjang. Kenapa masyarakat masih terdorong untuk berbelanja saat kondisi finansial sedang lesu? Perilaku ini dikenal dalam ilmu ekonomi dan psikologi sebagai fenomena lipstick effect.
Lipstick effect adalah fenomena perilaku konsumen ketika masyarakat tetap membeli barang atau layanan kemewahan kecil yang terjangkau—seperti lipstik, kopi, atau skincare—saat menghadapi tekanan ekonomi, alih-alih membeli barang mewah berharga mahal seperti rumah, mobil, atau perhiasan.
Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan Chairman Estée Lauder Companies. Pasca-tragedi 11 September 2001 yang mengguncang perekonomian Amerika Serikat, Lauder mengamati bahwa penjualan lipstik justru meningkat pesat ketika belanja barang mewah lainnya mengalami penurunan.
Saat situasi ekonomi memburuk, konsumen cenderung menunda pembelian berbiaya besar seperti mobil, perhiasan, atau tas premium. Sebagai gantinya, mereka membeli produk yang terjangkau namun tetap mampu meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan kebahagiaan instan.
Meskipun mengusung kata lipstick, fenomena ini tidak terbatas pada produk kecantikan semata. Dalam konteks modern, contoh lipstick effect mencakup:
Secangkir kopi specialty atau minuman kekinian.
Produk perawatan kulit (skincare) dan parfum lokal.
Tiket bioskop atau konser musik.
Makanan penutup (dessert) dan makan malam di restoran favorit.
Baca juga: 7 Lipstik Yang Cocok Untuk Acara Pernikahan dan Bertahan Lama Sepanjang Acara
Mengapa seseorang tetap membelanjakan uang untuk hal-hal non-primer saat harus berhemat? Secara psikologis, ada beberapa alasan utama yang mendorong perilaku konsumen ini:
Ketika tujuan finansial jangka panjang—seperti membeli properti—terasa makin sulit dicapai akibat inflasi, seseorang mencari pengalihan emosional. Membeli barang seharga Rp50.000 atau Rp200.000 memberikan rasa puas dan kendali atas hidup yang tidak didapatkan dari target besar yang tertunda.
Pengeluaran berskala kecil dianggap aman dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi keuangan secara keseluruhan. Menikmati camilan atau skincare dipandang sebagai bentuk self-reward yang masuk akal dibandingkan mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.
Studi dalam Journal of Personality and Social Psychology (2012) menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi meningkatkan dorongan seseorang untuk berinvestasi pada produk pemeliharaan penampilan. Produk kosmetik dan perawatan diri menjadi sarana yang relatif murah untuk menjaga rasa percaya diri di tengah ketidakpastian.
Selain itu, riset dalam Journal of Behavioral and Experimental Economics (2020) mencatat bahwa selama Great Recession di Amerika Serikat, pengeluaran untuk kosmetik meningkat sementara belanja pakaian mahal mengalami penurunan. Hal ini membuktikan adanya pergeseran pola konsumsi menuju produk yang memberikan kepuasan emosional dengan harga terjangkau.
Di Indonesia, pola belanja ini terlihat jelas dari data ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan porsi lebih dari 50 persen.
Di sisi lain, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk menahan diri dari pembelian barang tahan lama (durable goods) saat ekonomi tidak menentu. Sebagai gantinya, masyarakat mengalihkan anggaran belanja ke skala yang lebih kecil:
Menunda penggantian gawai atau kendaraan baru, tetapi tetap menjadwalkan makan di restoran pada akhir pekan.
Membatalkan rencana liburan jarak jauh, tetapi membeli parfum atau produk kecantikan lokal secara berkala.
Perubahan pola ini menandakan bahwa keinginan untuk menikmati hidup tidak hilang saat ekonomi sulit—hanya bentuk pengeluarannya yang bergeser menjadi lebih realistis.
Menikmati kemewahan kecil bukan berarti seseorang gagal dalam mengelola keuangan. Self-reward tetap menjadi bagian dari manajemen finansial yang sehat selama memenuhi kriteria berikut:
Pengeluaran telah dialokasikan dalam anggaran bulanan.
Tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok dan dana darurat.
Tidak dibiayai menggunakan utang konsumtif (seperti pinjaman online atau kartu kredit).
Tetap menyisihkan porsi untuk tabungan dan investasi.
Risiko utama dari lipstick effect terjadi apabila pengeluaran kecil dilakukan secara impulsif dan terus-menerus sebagai pelampiasan stres. Nominal kecil yang tidak terkontrol dapat terakumulasi menjadi angka besar yang mengganggu stabilitas finansial.
Fenomena ini membuktikan bahwa keputusan ekonomi manusia tidak hanya didasari oleh logika matematis, melainkan juga oleh kebutuhan emosional. Menjaga keseimbangan antara menikmati hidup dan memelihara kesehatan finansial adalah kunci agar pembelanjaan tetap terkendali.
Lipstick effect adalah kecenderungan konsumen untuk tetap membeli barang-barang kemewahan kecil yang terjangkau (seperti lipstik, kopi, atau skincare) ketika sedang menghadapi masa krisis atau ketidakpastian ekonomi.
Istilah ini dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan Chairman Estée Lauder Companies, setelah melihat peningkatan penjualan lipstik pasca-peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Tidak. Meskipun menggunakan nama lipstick, fenomena ini mencakup berbagai bentuk kemewahan kecil lainnya seperti kopi, makanan penutup, tiket bioskop, parfum, hingga layanan hiburan terjangkau.
Caranya adalah dengan membuat anggaran khusus untuk pengeluaran hiburan atau self-reward, menghindari utang konsumtif, serta memastikan kebutuhan pokok dan tabungan sudah terpenuhi terlebih dahulu.
Thumbnail: Magnific/senivpetro
Sumber:
Badan Pusat Statistik (BPS). Produk Domestik Bruto Indonesia Menurut Pengeluaran
Badan Pusat Statistik (BPS). Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia
Bank Indonesia. Survei Konsumen (Indeks Keyakinan Konsumen)
Hill, S. E., Rodeheffer, C. D., Griskevicius, V., Durante, K., & White, A. E. (2012). Boosting Beauty in an Economic Decline: Mating, Spending, and the Lipstick Effect. Journal of Personality and Social Psychology.
MacDonald, D., & Dildar, Y. (2020). Social and Psychological Determinants of Consumption: Evidence for the Lipstick Effect during the Great Recession. Journal of Behavioral and Experimental Economics.
Investopedia. Understanding the Lipstick Effect: A Key Economic Indicator Explained
Hitput.com - "Perasaan baru kemarin tahun baru, kok sekarang sudah mau mendekati akhir tahun lagi."…
Hitput.com - Siap hadapi 2026? Pelajari 10 tren digital marketing terbaru, mulai dari AI Overviews,…
Hitput.com - Kreditor meminta kejelasan atas batalnya pelaksanaan lelang eksekusi aset The Safin Hotel Pati…
Hitput.com - Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta V membatalkan lelang eksekusi yang…
Hitput Overview: Pertanyaan: Emas 74 kg berapa rupiah? Jawaban Singkat: Berdasarkan harga emas Antam per…
Hitput Snippet Overview: Tren fashion minimalis atau clean outfit kini makin digandrungi di Indonesia. Menggunakan…