Hitput.com – Dalam beberapa hari terakhir ini Indonesia dihebohkan dengan kasus hepatitis pada anak-anak. Bukan tanpa sebab hal ini bisa menghebohkan, karena ada beberapa anak yang sampai meninggal dunia karenanya. Tak heran jika isu hepatitis pada anak sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
Pada sesi wawancara yang dilakukan oleh CNN dengan narasumber dr. Lianda Siregar (seorang dokter spesialis penyakit dalam). Beliau menyebutkan bahwa kasus hepatitis yang sedang heboh sekarang ini masih “misterius”. Mengapa bisa begitu? Karena hepatitis ini bukanlah hepatitis A, B, C, D, atau E. Bukan hepatitis umum.
Badan kesehatan dunia atau WHO bahkan memasukkan kasus hepatitis akut ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Karena penyebab pasti dari penyakit ini memang belum diketahui. Sejauh ini baru diyakini penyebabnya adalah virus Adenovirus 41. Tetapi belum ada konfirmasi secara resmi dari pihak WHO, baru sebatas “diyakini”.
Itulah mengapa kementerian kesehatan Indonesia pun sedang gencar meneliti kasus hepatitis pada anak ini. Sementara bagi para orang tua sendiri harus ikut waspada akan hal ini. Minimalnya dengan menyimak penjelasan di bawah ini tentang gejala hepatitis akut pada anak yang sedang menjadi perbincangan.
Pada sesi wawancara dengan Metro TV, Prof. Tjandra Yoga Aditama sebagai mantan direktur penyakit dalam WHO Asia Tenggara, menjelaskan bahwa gejala-gejala yang terlihat sebenarnya hampir sama dengan gejala hepatitis umum. Gejala seperti kulit berwarna kuning, atau buang air kecil berwarna teh tua. Gejela tersebut dapat ditemui pada kasus hepatitis akut.
Akan tetapi, Prof. Tjandra menjelaskan bahwa hepatitis akut ini memang penyakit berat. Karena terdapat gejala-gejala seperti kejang, kemudian kesadaran yang menurun. Hal-hal tersebut mengarah pada sesuatu yang berat.
Kemudian berkaitan dengan desas-desus yang menyebutkan hepatitis akut disebabkan karena Covid-19 atau vaksin Covid-19, Prof. Tjandra sendiri mengatakan bahwa hal tersebut belum bisa dibuktikan. Fakta jika ada pasien yang menderita hepatitis akut juga menderita atau pernah terkena Covid-19 itu memang bisa-bisa saja.
“Intinya belum ada bukti jika hepatitis ini berhubungan dengan Covid-19 atau vaksinasi. Jadi proses vaksinasi harus terus dilanjutkan, bahkan jika bisa harus cepat selesai.” tutup Prof. Tjandra Yoga Aditama.
Kasus hepatitis akut ini terjadi pada anak di bawah usia 16 tahun. Berkaitan dengan upaya perlindungan yang dapat dilakukan, Prof. Tjandra Yoga Aditama menyebutkan beberapa poin, yaitu:
Itulah informasi berkaitan dengan gejala hepatitis akut pada anak yang masih dilakukan penelitian lebih lanjut. Tentunya kita semua berharap segera ditemukan titik terang dari penyebabnya. Sehingga akan dapat dilakukan pencegahan dan pengobatan secara maksimal.
Overview: "Tidak ada kata terlambat untuk mencoba hal baru di usia 25, 30, atau 40…
Overview: "Samsung memimpin tren fotografi smartphone 2026 melalui ProVisual Engine dan On-Device AI. Teknologi ini…
Hitput.com - Prompt AI design tools Canva: "Minimalist home office, transparent glass laptop, holographic UI,…
Hitput.com - Prompt ChatGPT AI: "Create an Image illustration of a team celebrating a milestone…
Overview: Intermittent fasting (IF) adalah metode pengaturan pola makan yang fokus pada pembatasan waktu makan…
Hitput.com - Prompt Gemini AI: "Generate an image of a foldable phone on a wooden…