Beranda Health Gejala Skoliosis Pada Perempuan yang Sering Terabaikan!

Gejala Skoliosis Pada Perempuan yang Sering Terabaikan!

Penyebab skoliosis idiopatik remaja perempuan
Ilustrasi gambar Penyebab skoliosis idiopatik pada remaja perempuan. Photo: Hitputcom AI

Overview:

Apa saja gejala skoliosis pada perempuan yang sering diabaikan? Gejala awal skoliosis sering kali samar dan tidak menimbulkan rasa sakit. Beberapa tandanya meliputi:

  • Bahu atau pinggang terlihat tidak sejajar (tinggi sebelah).

  • Salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol.

  • Tubuh cenderung condong atau miring ke satu sisi.

  • Pakaian atau rok terasa tidak pas atau miring saat dipakai.

Hitput.com – Pernah merasa bahu terlihat tidak sejajar saat bercermin? Atau mungkin baju terasa lebih “jatuh” ke satu sisi? Banyak orang menganggap hal seperti ini cuma masalah postur tubuh biasa. Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda skoliosis yang sering tidak disadari sejak awal.

Dilansir dari Healthline, skoliosis adalah kondisi ketika tulang belakang melengkung ke samping hingga membentuk huruf “S” atau “C”. Kondisi ini paling sering muncul saat masa pertumbuhan, terutama pada usia remaja.

Menariknya, skoliosis ternyata lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki, khususnya jenis adolescent idiopathic scoliosis, atau skoliosis yang muncul pada usia remaja tanpa penyebab pasti.

Sayangnya, gejala skoliosis sering datang secara perlahan dan tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Karena itulah, banyak kasus baru diketahui ketika lengkungan tulang belakang sudah cukup terlihat.

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Mengalami Skoliosis?

Sampai sekarang, penyebab pasti skoliosis idiopatik memang belum diketahui secara jelas. Namun, para peneliti menemukan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami skoliosis yang progresif atau semakin parah seiring pertumbuhan tubuh.

Ada beberapa hal yang diduga berperan dalam kondisi ini.

1. Masa pertumbuhan yang cepat

Skoliosis sering muncul saat tubuh sedang mengalami growth spurt atau pertumbuhan pesat di masa pubertas. Pada perempuan, fase ini biasanya datang lebih awal. Ketika tulang tumbuh dengan cepat, perubahan pada tulang belakang juga bisa berkembang tanpa disadari.

2. Faktor hormon dan genetik

Beberapa penelitian menduga hormon tertentu ikut memengaruhi perkembangan skoliosis. Selain itu, riwayat keluarga juga disebut dapat meningkatkan risiko. Sekitar sepertiga remaja dengan skoliosis idiopatik diketahui memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.

3. Gejalanya sering dianggap normal

Ini yang cukup sering terjadi. Banyak remaja perempuan mengira pundak tidak seimbang atau tubuh sedikit miring hanyalah efek kebiasaan duduk, membawa tas, atau bentuk tubuh yang memang berbeda. Akibatnya, tanda-tanda awal skoliosis jadi mudah terlewat.

Padahal, skoliosis bukan sekadar kebiasaan duduk miring. Bahkan menurut para ahli, idiopathic scoliosis tidak disebabkan oleh postur tubuh buruk, olahraga, maupun membawa tas berat.

Gejala Skoliosis yang Sering Tidak Disadari

Salah satu alasan skoliosis kerap terlambat diketahui adalah karena gejalanya bisa tampak sangat ringan di awal. Banyak penderita bahkan tidak merasa sakit sama sekali.

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain bahu kanan dan kiri terlihat tidak sejajar, salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol, pinggang terlihat tidak simetris, tubuh cenderung condong ke satu sisi, posisi kepala terasa tidak tepat di tengah tubuh, rok atau pakaian terasa miring saat dipakai, serta cepat pegal pada punggung.

Pada kasus yang lebih berat, skoliosis juga dapat menyebabkan nyeri punggung hingga gangguan pernapasan karena ruang paru-paru menjadi lebih sempit.

Karena gejalanya sering samar, banyak kasus baru diketahui saat seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan, menjalani foto rontgen, atau menyadari bentuk tubuhnya mulai berubah.

Apakah Skoliosis Selalu Terlihat Jelas?

Tidak selalu. Pada skoliosis ringan, lengkungan tulang belakang mungkin tidak langsung terlihat oleh mata. Bahkan beberapa orang baru menyadarinya setelah melihat foto diri sendiri atau ketika ada orang lain yang memperhatikan posisi bahunya yang berbeda.

Inilah mengapa skoliosis sering disebut sebagai kondisi yang “diam-diam”. Perubahannya terjadi perlahan, tetapi bisa berkembang seiring waktu, terutama selama masa pertumbuhan remaja.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Jika mulai melihat adanya perubahan bentuk tubuh yang tidak biasa, sebaiknya jangan menunggu sampai terasa sakit. Pemeriksaan lebih awal penting untuk mengetahui apakah benar terdapat kelengkungan pada tulang belakang.

badan pegal karena skoliosis
Ilustrasi badan pegal karena skoliosis. (Foto: Freepik)

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik sederhana, seperti melihat posisi bahu dan pinggang, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan rontgen untuk memastikan tingkat kelengkungan tulang belakang.

Penanganan skoliosis sendiri tergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Ada yang cukup dipantau secara rutin, ada yang memerlukan brace atau penyangga khusus, hingga operasi pada kasus tertentu. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk mencegah lengkungan bertambah parah.

Baca juga: 10 Manfaat Vitamin K Untuk Tubuh, Salah Satunya Mencerdaskan Otak Loh!

Bagaimana Penanganan Skoliosis?

Penanganan skoliosis tidak selalu berakhir dengan operasi. Pada banyak kasus, terutama jika lengkungan tulang belakang masih ringan, dokter biasanya akan memantau perkembangannya terlebih dahulu melalui pemeriksaan rutin.

Selain observasi, ada juga beberapa metode terapi yang umum digunakan untuk membantu mengontrol perkembangan skoliosis dan memperbaiki postur tubuh.

1. Schroth Therapy

Menurut Healthline, salah satu terapi yang cukup dikenal adalah Schroth therapy. Metode ini merupakan terapi fisik khusus untuk skoliosis yang berfokus pada latihan pernapasan, postur, dan penguatan otot tubuh.

Latihan dalam Schroth therapy dirancang secara individual sesuai bentuk lengkungan tulang belakang tiap pasien. Tujuannya bukan hanya membantu postur terlihat lebih baik, tetapi juga mengurangi nyeri dan meningkatkan keseimbangan tubuh.

Menurut beberapa penelitian, terapi ini juga dapat membantu memperlambat perkembangan skoliosis jika dilakukan secara rutin dan didampingi tenaga profesional.

2. Penggunaan Brace

Pada remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan, dokter terkadang menyarankan penggunaan brace atau penyangga tubuh khusus.

Brace tidak membuat tulang belakang kembali lurus sepenuhnya, tetapi dapat membantu mencegah lengkungan bertambah parah selama masa pertumbuhan berlangsung.

3. Operasi pada Kasus Berat

Jika lengkungan tulang belakang sudah cukup besar dan terus berkembang pada derajat tertentu, operasi mungkin diperlukan. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk membantu menstabilkan tulang belakang dan mencegah gangguan yang lebih serius di kemudian hari.

Namun, tidak semua penderita skoliosis membutuhkan operasi. Penanganan akan disesuaikan dengan usia, tingkat kelengkungan, dan kondisi masing-masing pasien.

Skoliosis Bukan Sekadar Masalah Penampilan

Karena sering terlihat dari perubahan bentuk tubuh, skoliosis kadang dianggap hanya berkaitan dengan penampilan. Padahal, kondisi ini juga bisa memengaruhi kenyamanan bergerak, rasa percaya diri, hingga kualitas hidup seseorang.

Tidak sedikit remaja yang baru sadar bahwa mereka mengalami skoliosis setelah merasa minder dengan bentuk bahu atau postur tubuh mereka.

Karena itu, penting untuk meningkatkan awareness bahwa perubahan kecil pada postur tubuh bukan sesuatu yang selalu boleh dianggap sepele. Terlebih pada perempuan yang memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami skoliosis progresif.

Namun begitu, baik perempuan maupun laki-laki tetap harus pandai dalam mengenali tanda-tanda awal yang bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan penanganan lebih cepat. Segera periksakan diri ke dokter apabila menemukan gejala skoliosis atau rasa tidak nyaman dalam jangka waktu panjang.

Frequently Asked Questions (FAQ) 

Q: Mengapa perempuan lebih berisiko terkena skoliosis yang parah? A: Meskipun penyebab pastinya belum diketahui (idiopatik), perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami skoliosis progresif karena faktor hormonal, genetik, serta fase pertumbuhan cepat (growth spurt) yang terjadi lebih awal saat pubertas.

Q: Apakah membawa tas berat atau postur tubuh buruk bisa menyebabkan skoliosis? A: Tidak. Menurut para ahli, adolescent idiopathic scoliosis tidak disebabkan oleh kebiasaan duduk yang buruk, olahraga, ataupun membawa beban berat seperti tas sekolah.

Q: Apakah skoliosis bisa disembuhkan tanpa operasi? A: Bisa, terutama jika dideteksi sejak dini saat kelengkungan masih ringan. Penanganan tanpa operasi meliputi pemantauan rutin, penggunaan brace (penyangga tubuh), dan terapi fisik khusus seperti Schroth Therapy.

Source:

Healthline. Everything You Need to Know About Scoliosis

Healthline. Idiopathic Scoliosis: Everything You Need to Know

Healthline. What Is the Schroth Method for Scoliosis?

Verywell Health. Treatment for Mild to Severe Dextroscoliosis

Leave your vote

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.